1.
Pengertian Asesmen Kinerja
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam suatu pembelajaran
tidak akan terlepas dari kegiatan asesmen. Asesmen merupakan suatu proses
pengumpulan informasi yang dilakukan secara sistematis tanda merujuk pada suatu
keputusan tentang nilai. Informasi ini bisa bersifat kualitatis maupun
kuantitatif. Asesmen digunakan sebagai cara untuk menginformasikan kepada para
siswa tentang bagaimana yang mereka kerjakan atau sebaik apa yang telah mereka
lakukan dalam pembelajaran (Garfield, 1994).
Istilah evaluasi dan asesmen seringkali dipertukarkan,
namun sebenarnya terdapat perbedaan yang esensial di antara keduanya. Asesmen
dalam hal ini dinyatakan sebagai suatu cara yang tepat untuk mengungkap proses
dan kemajuan belajar. Asesmen dapat memberikan umpan balik secara berkesinambungan
tentang siswa untuk perbaikan pembelajaran. Sementara itu evaluasi dinyatakan
sebagai pemberian nilai (judgement) terhadap hasil belajar berdasarkan
data yang diperoleh melalui asesmen (Kumano, 2001; Mehrens & Lehman, 1989).
Selain dari itu, terdapat pula beberapa istilah lainnya yaitu tes, testing, dan
pengukuran yang juga seringkali dipertukarkan oleg guru. Artikel ini akan
mencoba mere-view tentang pengertian, persamaan dan perbedaan di antara
istilah-istilah tersebut sehingga menambah khazanah pemahaman guru dalam
melaksanakan praktek penilaian di lapangan.
Menurut Corner, asesmen merupakan
cara untuk menilai performance siswa secara individual
maupun kelompok setelah dilaksanakan pembelajaran. Menurut Herman, asesmen
merupakan suatu proses atau upaya normal
pengumpulan data atau informasi yang berkaitan dengan
variable-variabel. Pembelajaran yang dapat digunakan sebagai bahan dalam
pengambilan keputusan oleh guru. Sedangkan menurut Jalogo, asesmen
merupakan cara untuk menilai sesuatu dari
berbagai sudut pandang seperti tingkatan, nilai guna dan keunggulannya
dari hasil kinerja yang baik.
Asesmen kinerja merupakan suatu asesmen yang
menitikberatkan pada proses. Asesmen kinerja adalah asesmen yang memberi
kesempatan siswa menunjukkan kinerja, bukan menjawab atau memilih jawaban dari
sederetan kemungkinan jawaban yang sudah tersedia. Asesmen kinerja adalah
penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa
sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah
laku, atau interaksi siswa (Depsiknas, 2004). Asesmen kinerja sebagai metode
pengujian yang meminta siswa untuk meminta jawaban atau hasil yang menunjukkan
pengetahuan dan keahlian mereka. Asesmen kinerja merupakan pemahaman terbaik
yang dapat berupa respon siswa dari yang paling sederhana sampai yang paling
kompleks (Elliot, 1995).
Dengan demikian, asesmen kinerja merupakan salah satu
bentuk asesmen yang meminta siswa untuk menunjukkan kinerja mereka sehingga
dapat diketahui pengetahuan mereka. Asesmen kinerja menuntut siswa untuk aktif
karena yang dinilai bukan hanya produk tetapi yang lebih penting adalah
keterampilan yang mereka punya.
Asesmen dalam pembelajaran
matematika merupakan proses memperoleh informasi tentang pengetahuan
kemampuan matematika siswa, kemampuan menggunakan matematika, dan kemampuan
membuat kesimpulan untuk berbagi tujuan (NCTM, 1995). Asesmen kinerja
dalam matematika meliputi presentasi tugas matematika, proyek atau investigasi,
observasi, wawancara (interview), dan melihat hasil (product).
Enam
aktivitas yang mengambarkan penggunaan tugas-tugas kinerja dalam ruang kelas
yaitu: 1) Mengeksplorasi lebih dari satu strategi, representasi dan
jawaban-jawaban, 2) Memperbaiki respon-respon untuk meningkatkan kualitasnya,
3) Menggunakan kriteria yang telah ditentukan untuk menilai kualitas
respon-respon, 4) Mengembangkan kriteria penskoran untuk mengevaluasi kualitas
respon-respon, 5) Mengukur pengetahuan yang ada pada siswa, dan 6) Memonitor
pembelajaran para siswa selam instruksional (Parke, dkk, 2003:3).
2.
Cara Mendesaian Asesmen Kinerja
Menurut Stiggins (1994), mendesain asesmen kinerja melalui tiga langkah
utama, yaitu sebagai berikut.
1.
Memilih kinerja
Kinerja
dapat berupa serangkaian keterampilan atau perilaku yang harus
mendemonstrasikan siswa, produk yang harus dibuat, serta konteks tertentu yang
mendemonstrasikan keduanya. Asesmen kinerja difokuskan pada observasi dan judgement terhadap
fungsi kinerja siswa dalam kelompok. Selanjutnya putuskan kriteria kinerja
(kriteria yang jelas dan memadai hal krusial dalam asesmen kinerja).
2.
Penyiapan dan
pengembangan sarana latihan (excercise) untuk unjuk kerja
Ada
berbagai macam cara yang dapat digunakan dalam langkah ini, yaitu:
a. dengan menyajikan latihan terstruktur untuk jenis
kinerja yang diinginkan, atau
b. dengan mengobservasi dan mengevaluasi
berbagai jenis kinerja selama pembelajaran pengumpulan informasi tentang
kinerja “tipikal” siswa, atau
c. mengkombinasikan keduanya.
d. Selanjutnya, putuskan seberapa banyak latihan yang
diperlukan.
3.
Penskoran dan
pencatatan
Perhatikan tingkat rincian hasil, apakah dengan menganalisis tiap kinerja
secara terpisah ataukah secara holistik. Selanjutnya, pilih metode (sistem
pencatatan) untuk mentransformasikan kriteria menjadi informasi yang berguna,
misalnya ceklis, skala bertingkat, catatan anekdotal, dan catatan mental.
Terakhir, perlu diputuskan siapa yang akan mengamati dan mengevaluasinya (umumnya
guru).
3.
Rubrik atau Pedoman Penyusunan Asesmen
Kinerja
Untuk menjaga objektivitas asesmen kinerja diperlukan
penetapan rubrik. Rubrik ini disusun berdasarkan tujuan asesmen. Dalam
melaksanakan asesmen dengan menggunakan rubrik sebaiknya siswa mengetahui
tentang kriteria apa saja yang akan dinilai sehingga mereka dapat memaksimumkan
kemampuan yang dimilikinya.
Rubrik atau kriteria penilaian adalah suatu deskripsi
tentang dimensi-dimensi untuk memutuskan kinerja siswa, suatu skala nilai untuk
menilai dimensi-dimensi yang telah ditetapkan, dan standar untuk memutuskan
kinerja (Karim, 2003). Rubrik berarti hirarki dari standar yang digunakan untuk
menilai kerja siswa. Rubrik membantu guru untuk menilai kinerja siswa dengan
lebih akurat dan objektif dan memfokuskan guru untuk menilai kinerja bukan
siswanya (Bush & Leinwald, 2000). Terdapat 2 macam rubrik, yaitu holistik
dan analitik.
Rubrik holistik menggambarkan kualitas kinerja untuk
tiap level sedangkan rubrik analitik memberikan nilai untuk komponen tugas.
Kedua rubrik tersebut memiliki keuntungan masing-masing. Keuntungan rubrik
holistik, antara lain pekerjaan dinilai melalui keseluruhan kualitas, semua
proses diberikan bobot yang sama, serta menekankan pada proses berpikir dan berkomunikasi
dalam matematika, serta perhitungannya secara menyeluruh. Keuntungan rubrik
analitik, antara lain menekankan pada cara yang berbeda dalam penyelesaian
tugas, beberapa proses mungkin mendapatkan penekanan atau bobot yang berbeda,
lebih mudah diterapkan, serta memberikan sebagian kredit, serta perhitungannya
lebih terperinci (Bush & Leinwald, 2000). Contoh rubrik-rubrik asesmen
dalam pembelajaran matematika, yaitu:
Tabel 1. Rubrik Holistik
Nilai
|
Keterangan
|
Kriteria Umum
|
3
|
Sangat Memuaskan
|
Menunjukkan pemahaman konsep secara tepat dan teliti, perhitungan benar,
menggunakan tabel, gambar, dan grafik secara benar dan teliti, menggunakan
strategi yang tepat, serta alasan tepat dan masuk akal
|
2
|
Memuaskan
|
Menunjukkan pemahaman konsep secara tepat, perhitungan benar, menggunakan
tabel, gambar, dan grafik secara benar dan teliti, penggunakan strategi
tepat, serta alasan tepat tapi kurang masuk akal
|
1
|
Kurang memuaskan
|
Menunjukkan pemahaman konsep kurang tepat, perhitungan benar, menggunakan
tabel, gambar, dan grafik secara benar tetapi kurang teliti, penggunakan
strategi kurang tepat, serta alasan kurang tepat
|
Tabel 2. Rubrik Analitik
Keterangan
|
Nilai dan
Kriteria Umum
|
Pemahaman
masalah
|
Tidak memahami
(0)
Memahami
sebagian (3)
Dapat memahami
(6)
|
Perencanaan
strategi
|
Strategi salah
(0)
Sebagian
strategi benar (3)
Semua strategi
tepat (6)
|
Jawaban yang
didapat
|
Jawaban salah
(0)
Sebagian
jawaban benar (3)
Jawaban benar
(6)
|
Dalam asesmen kinerja,
guru dan siswa dapat menggunakan rubrik yang sudah ada atau dapat mengembangkan
rubrik sendiri. Tapi untuk mengembangkan sebuah rubrik memerlukan waktu yang
cukup banyak. Rubrik QCAI mencakup tiga komponen yang saling berkaitan dan
merefleksikan kerangka konseptual dari asesmen: (1) Konseptual dan prosedural
matematik. (2) Pengetahuan strategik matematik dan (3) Komunikasi matematik.
Rubrik yang digunakan QCAI adalah sebagai berikut:
Tabel 3 .Rubrik Asemen Kinerja
Skor
|
Pengetahuan Matematik
|
Pengetahuan Strategik
|
Komunikasi Matematika
|
4
|
Menunjukkan pemahaman terhadap konsep
dan prinsip problem matematik, menggunakan terminologi dan notasi matematika
yang sesuai dan mengerjakan algoritma secara komplit dan benar
|
Menggunakan informasi luar yang relevan
baik formal maupun informal, mampu mengidentifikasi unsur-unsur penting dari
masalah dan menunjukkan pemahaman terhadap hubunganhubungan antara
unsur-unsur tersebut. Merefleksikan strategi yang sesuai dan sistematik dari
pemecahan masalah, dan memberikan bukti yang kuat dari proses selesaian yang
kuat dan sistematik
|
Memberikan respon yang lengkap dengan
penjelasan yang jelas dan tidak membingungkan, termasuk diagram yang sesuai
dan lengkap, mengkomunikasikan selesaian yang efektif, memberikan argumen pendukung
yang kuat, logis dan lengkap, termasuk contoh-contoh dan kontra contoh
|
3
|
Menunjukkan pemahaman yang hampir
benar terhadap konsep dan prinsip problem matematik, menggunakan hamper benar
terminologi dan notasi matematika, mengerjakan algoritma secara lengkap, dan
perhitungan yang secara umum benar tapi mungkin memuat kesalahan-kesalahan
kecil.
|
Menggunakan informasi luar yang
relevan baik formal maupun informal, mampu mengidentifikasi sebagian besar
unsur-unsur penting dari masalah dan menunjukkan pemahaman yang umum dari
hubungan-hubungan antara unsurunsur tersebut, dan memberikan bukti yang kuat
dari proses selesaian yang lengkap atau hampir lengkap dan sistematik.
|
Memberikan respon yang cukup lengkap
dengan penjelasan atau deskripsi yang dapat dipertanggungjawabkan
kejelasannya, mungkin memuat hampir lengkap diagram yang sesuai, secara umum
mengkomunikasikan solusi secara efektif, menghadirkan argumenargumen
pendukung yang logis tapi mungkin memuat beberapa lompatan (gap) kecil.
|
2
|
Menunjukkan pemahaman dari beberapa
konsep atau prinsip problem matematik dan mungkin memuat kesalahan
perhitungan yang serius
|
Dapat mengidentifikasi beberapa unsur
penting dari masalah tapi menunjukan pemahaman yang terbatas dari hubungan
antara unsur-unsur tersebut, dan memberikan beberapa bukti dari proses
solusi, tapi proses solusinya mungkin tidak lengkap atau tidak sistematik.
|
Membuat kemajuan yang signifikan
kearah solusi yang lengkap terhadap masalah, tapi penjelasan atau deskripsi
mungkin membingungkan atau tidak jelas, mungkin membuat diagram yang tidak
jelas, komunikasi sulit untuk diinterpretasi, dan argumen-argumen mungkin
tidak lengkap atau didasarkan pada premis-premis yang tidak logis
|
1
|
Menunjukkan pemahaman yang terbatas
pada konsep dan prinsip problem matematik, mungkin salah menggunakan atau
gagal dalam memakai bentuk-bentuk matematik, dan membuat kesalahan
perhitungan yang besar.
|
Mungkin menggunakan informasi luar
yang tidak relevan, gagal untuk mengidentifikasi unsur-unsur penting atau
terlalu menekan pada unsur-unsur yang tidak penting, merefleksikan strategi
yang tidak sesuai dari pemecahan masalah, memberikan bukti yang tidak kuat
dari proses solusi, proses solusi mungkin tidak ada atau sulit untuk
mengidentifikasi atau tidak sistematik
|
Memiliki beberapa unsur-unsur yang
sesuai tapi gagal untuk melengkapinya atau mungkin menghilangkan bagianbagian
penting dari masalah, penjelasan atau diskripsi mungkin keliru atau sulit
untuk diikuti, mungkin memuat diagram representasi situasi masalah yang
keliru atau diagram yang tidak jelas atau sulit untuk diinterpretasi
|
KESIMPULAN
Asesmen kinerja
merupakan prosedur penggunaan tugas-tugas yang bertujuan untuk mengetahui
seberapa baik siswa telah belajar dan menuntut para siswa untuk secara aktif
melaksanakan tugas-tugas yang kompleks dan signifikan serta menggunakan
pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk menyelesaikan masalah-masalah
realistik dan otentik. Asesmen kinerja dapat digunakan untuk memperoleh
informasi mengenai pengetahuan matematika (mathematical knowledge), pengetahuan
strategik (strategical knowledge) dan komunikasi matematik (communication).
Selain itu, asesmen kinerja memiliki beberapa keunggulan, yaitu (1) Memberikan
kesempatan untuk mengaplikasikan ketrampilan menemukan, (2) Memberikan peluang
untuk aplikasi-aplikasi pertanyaan-pertanyaan berakhir terbuka, (3)
Mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa, (4) Memberikan bukti mengenai
apa yang dapat siswa lakukan, (5) Memberikan kesempatan untuk kreatifitas
siswa. Penggunaan tugas kinerja yang berpadu dengan pembelajaran matematika
perlu dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Hal ini bertujuan untuk
membangun komunitas belajar yang dewasa.
PERTANYAAN :
Desain penilaian kinerja sangat cocok dalam pembelajaran matematika yang
sudah dipaparkan. Adapun sebuah kasus apabila guru sudah menerapkan dengan
benar dalam mendesain kinerja seorang guru untuk menilai peserta didiknya, akan
tetapi nilai kinerja dari siswa sebagian masih banyak yang belum tuntas, guru
sudah melakukan upaya untuk meminta kepada siswa memperbaiki nilai yang belum
tuntas, sebagai guru tugas yang diberikan sudah dikoreksi ternyata masih banyak
juga belum tuntas sebanyak 4 kali melakukan remedial atau lebih, selanjutnya
wali kelas atau teman seprofesi maupun kepala sekolah bersangkutan meminta
kepada guru mata pelajaran untuk dipercepat prosesnya dengan cara mempermudah
siswa tidak menggunakan soal -soal remedial seperti membuat rangkuman, keterampilan,
dikarenakan siswa masih belum tuntas juga apabila diberikan soal
remedial,
- Menurut anda, apakah guru gagal memberikan proses pembelajaran karna masih banyak siswa yang belum tuntas ataukah siswa yang zaman sekarang banyak yang tidak peduli dengan pembelajaran apalagi matematika ?
- Sikap kita sebagai guru bersangkutan lebih memilih tidak diberikan soal remedial atau adakah upaya cara lain supaya nilai siswa tuntas?
Mengenai permasalahan no 1. Kita tidak bisa langsung dapat mengambil kesimpulan bahwa guru gagal dalam memberikan pembelajaran kepada siswa, karena bnyak faktor dalam pembelajarn yang dapat proses belajar mengajar dikelas tidak berjalan secara semestinya.jd untuk lebih meminimalisir dalam hal kegagalan dalam proses evaluasi kita sebagai guru harus lebih mengenal dulu karakter atau kemampuan dari anak didik kita..sehingga kita bisa menentukan evaluasi seperti apa yang cocok untuk anak didik kita.
BalasHapus1. Menurut saya tidak bisa sepenuhnya dikatakan bahwa seorang guru gagal, banyak faktor yg menyebabkan banyak siswa yg remedi. Kemungkinan tahap-tahap pembelajaran yg sebenarnya belum terlaksana dengan baik, sebagai guru langkah awal adalah mengenal karakterisrik siswa, kemudian memberikan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswanya tsb, jika keadaan kelas tidak semangat guru harus memvariasikan metode pembelajaran agar mampu meningkatkan motivasi siswanya, kemudian guru melakukan assesmen atau penilaian yang tepat yg mampu meningkatkan kualitas siswa. Mungkin ada tahapan yg kirang sempurna dilakukan selama proses pembelajaran.
BalasHapus2. Remedial jangan diartikan hanya sebatas memberi soal ulang dengan tingkat yg sama seperti soal orisinilnya, tetapi tahap remedial harus dilaksanakan, yaitu pertama mengidentifikasi permasalahan pemahaman siswa, selanjutnya memberikan treathment berupa layanan peningkatan pemahaman siswa, lalu assestment remedialnya. Jika hanya diberikan soal yg sama tanpa treatmen sama saja dengan penyakit yg sama, tanpa diberi obat tapi kepengen sembuh. Piye toh?
1. menurut saya tidak bisa mengambil kesimpulan seperti permasalahan tersbut, kita harus bisa mengevaluasi kenapa siswa tersebut banyak yang remedial, apakah benar terjadi pada guru atau memang kesalahan pada siswa, setelah dievaluasi sebagai guru kita dapat mencari solusi dari dari permasalahan tersebut mungkin dengan cara merubah metode mengajar.
BalasHapus2. remedial itu diberikan ketika siswa tidak memenuhi batas ketuntasan yang kita berikan, kemudian remedial juga merupakan suatu bantuan untuk mengatasi kesulitan belajar, cara lainnya sebelum melakukan remedial, sebagai seorang guru harus membrikan pemahaman kepada peserta didiknya bagian mana yang dia tidak memahaminya baru memberikan remedial
1. Permaslahan pertama, tidak bisa langsunh disimpulkan bahwa guru atau siswa gagal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Karena banyak faktor yang berperan didalamnya. Salah satunya adalah motivasi. Baik motivasi guru mengajar atau pun motibasi siswa dalam menerima pelajaran. Keduanya saling berkaitan. Jika memang motivasi siswanya rendah, maka guru lah yang harus memberikan motivasi lebih kepda siswanya utk lebh giat lg dalam belajar.
BalasHapus2. Mslah kedua, ketiKa ada siswa yang tidak tuntas, guru wajib memberikan remedial kepada siswanya. Remedialnya bisa sja dengan mengerjakan soal yang sama dan pada nomor berapa atau kd berapa yang tidak tuntas.
Permasalahan pertama guru tidak sepenuhnya gagal garena banyak fator yang mempenkaruhi dalam pembelajaran seperti waktu yang sedikit dan juga faktor dari siswa itu sendiri yang tidak serius dalam proses pembelajaran.
BalasHapusYang kedua remedial diberikan dimana siawa tersebut tidak tuntas dalam penilaian.
Permasalahan pertama guru tidak sepenuhnya gagal garena banyak fator yang mempenkaruhi dalam pembelajaran seperti waktu yang sedikit dan juga faktor dari siswa itu sendiri yang tidak serius dalam proses pembelajaran.
BalasHapusYang kedua remedial diberikan dimana siawa tersebut tidak tuntas dalam penilaian.
menurut saya kita perlu melihat berapa persentase ketidaktuntasan siswa dalam kelas. misalnya tingkat keridaktuntasannya lebih dri 80%, bisa jadi cara gurunya mengajar yang salah. tetapi jika persentase ketidaktuntasan siswa dalm kelas hany 10%, hal itu wajar-wajar saja karna mengingat kemampuan siswa berbeda-beda. cara meremedialnay adalah bukan hanya dengan lngsung memberikan soal tetapi siswa-siswa yang tidak tuntas itu dibelajarkan kembali mengenai materi tersebut, setelah itu baru diberikan tes kembali. terima kasih
BalasHapusmenurut saya, ketidaktuntasan siswa memiliki faktor yang menyebabkannya, beberapa karena dari segi intern siswa tersebut misalnya karena tingkat kemalasan, kecemasan dan keteraturan sistem pembelajaran yang di terapkan
BalasHapusharus diidentifikasi kemampuan dasar siswa, jika siswa kelas tersebut berdistribusi normal setelah dilakukan analisis, maka bisa dikatakan guru gagal mengajar. Namun jika tidak,hal tersebut harus dilakukan investigasi lebih lanjut
BalasHapus1. kita tidak bisa menyalahkan guru begitu juga, ada baiknya kita juga melihat keadaan siswa jika siswa tersebut berkebutuhan khusus maka ada baiknya kita jelaskan kepada guru jika penilaiannya berbeda dengna siswa yang ada pada umumnya
BalasHapus2. mungkin dengna melihat dari penilaian proses siswa
banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan siwa, bisa jadi dari guru atau bisa juga motivasi siswa kurang, serta pengaruh perkembangan teknologi.
BalasHapus