Kamis, 12 April 2018

DESAIN PENILAIAN PERFORMANCE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA


1.      Pengertian Asesmen Kinerja
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam suatu pembelajaran tidak akan terlepas dari kegiatan asesmen. Asesmen merupakan suatu proses pengumpulan informasi yang dilakukan secara sistematis tanda merujuk pada suatu keputusan tentang nilai. Informasi ini bisa bersifat kualitatis maupun kuantitatif. Asesmen digunakan sebagai cara untuk menginformasikan kepada para siswa tentang bagaimana yang mereka kerjakan atau sebaik apa yang telah mereka lakukan dalam pembelajaran (Garfield, 1994).
Istilah evaluasi dan asesmen seringkali dipertukarkan, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang esensial di antara keduanya. Asesmen dalam hal ini dinyatakan sebagai suatu cara yang tepat untuk mengungkap proses dan kemajuan belajar. Asesmen dapat memberikan umpan balik secara berkesinambungan tentang siswa untuk perbaikan pembelajaran. Sementara itu evaluasi dinyatakan sebagai pemberian nilai (judgement) terhadap hasil belajar berdasarkan data yang diperoleh melalui asesmen (Kumano, 2001; Mehrens & Lehman, 1989). Selain dari itu, terdapat pula beberapa istilah lainnya yaitu tes, testing, dan pengukuran yang juga seringkali dipertukarkan oleg guru. Artikel ini akan mencoba mere-view tentang pengertian, persamaan dan perbedaan di antara istilah-istilah tersebut sehingga menambah khazanah pemahaman guru dalam melaksanakan praktek penilaian di lapangan.
Menurut Corner, asesmen  merupakan  cara  untuk  menilai performance  siswa secara individual maupun kelompok setelah dilaksanakan pembelajaran. Menurut Herman, asesmen merupakan suatu proses  atau  upaya   normal pengumpulan data atau informasi yang berkaitan dengan variable-variabel. Pembelajaran yang dapat digunakan sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru. Sedangkan menurut Jalogo, asesmen  merupakan  cara untuk menilai  sesuatu  dari  berbagai sudut pandang seperti tingkatan, nilai guna dan keunggulannya dari hasil kinerja yang baik.
Asesmen kinerja merupakan suatu asesmen yang menitikberatkan pada proses. Asesmen kinerja adalah asesmen yang memberi kesempatan siswa menunjukkan kinerja, bukan menjawab atau memilih jawaban dari sederetan kemungkinan jawaban yang sudah tersedia. Asesmen kinerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laku, atau interaksi siswa (Depsiknas, 2004). Asesmen kinerja sebagai metode pengujian yang meminta siswa untuk meminta jawaban atau hasil yang menunjukkan pengetahuan dan keahlian mereka. Asesmen kinerja merupakan pemahaman terbaik yang dapat berupa respon siswa dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks (Elliot, 1995).
Dengan demikian, asesmen kinerja merupakan salah satu bentuk asesmen yang meminta siswa untuk menunjukkan kinerja mereka sehingga dapat diketahui pengetahuan mereka. Asesmen kinerja menuntut siswa untuk aktif karena yang dinilai bukan hanya produk tetapi yang lebih penting adalah keterampilan yang mereka punya.
Asesmen dalam pembelajaran matematika merupakan proses memperoleh informasi tentang pengetahuan kemampuan matematika siswa, kemampuan menggunakan matematika, dan kemampuan membuat kesimpulan untuk berbagi tujuan (NCTM, 1995). Asesmen kinerja dalam matematika meliputi presentasi tugas matematika, proyek atau investigasi, observasi, wawancara (interview), dan melihat hasil (product).
Enam aktivitas yang mengambarkan penggunaan tugas-tugas kinerja dalam ruang kelas yaitu: 1) Mengeksplorasi lebih dari satu strategi, representasi dan jawaban-jawaban, 2) Memperbaiki respon-respon untuk meningkatkan kualitasnya, 3) Menggunakan kriteria yang telah ditentukan untuk menilai kualitas respon-respon, 4) Mengembangkan kriteria penskoran untuk mengevaluasi kualitas respon-respon, 5) Mengukur pengetahuan yang ada pada siswa, dan 6) Memonitor pembelajaran para siswa selam instruksional (Parke, dkk, 2003:3).

2.      Cara Mendesaian Asesmen Kinerja
Menurut Stiggins (1994), mendesain asesmen kinerja melalui tiga langkah utama, yaitu sebagai berikut.
1.      Memilih kinerja
            Kinerja dapat berupa serangkaian keterampilan atau perilaku yang harus mendemonstrasikan siswa, produk yang harus dibuat, serta konteks tertentu yang mendemonstrasikan keduanya. Asesmen kinerja difokuskan pada observasi dan judgement terhadap fungsi kinerja siswa dalam kelompok. Selanjutnya putuskan kriteria kinerja (kriteria yang jelas dan memadai hal krusial dalam asesmen kinerja).
2.      Penyiapan dan pengembangan sarana latihan (excercise) untuk unjuk kerja
            Ada berbagai macam cara yang dapat digunakan dalam langkah ini, yaitu:
a.       dengan menyajikan latihan terstruktur untuk jenis kinerja yang diinginkan, atau
b.       dengan mengobservasi  dan mengevaluasi berbagai jenis kinerja selama pembelajaran pengumpulan informasi tentang kinerja “tipikal” siswa, atau
c.       mengkombinasikan keduanya.
d.      Selanjutnya, putuskan seberapa banyak latihan yang diperlukan.

3.      Penskoran dan pencatatan
Perhatikan tingkat rincian hasil, apakah dengan menganalisis tiap kinerja secara terpisah ataukah secara holistik. Selanjutnya, pilih metode (sistem pencatatan) untuk mentransformasikan kriteria menjadi informasi yang berguna, misalnya ceklis, skala bertingkat, catatan anekdotal, dan catatan mental. Terakhir, perlu diputuskan siapa yang akan mengamati dan mengevaluasinya (umumnya guru).

3.       Rubrik atau Pedoman Penyusunan Asesmen Kinerja
Untuk menjaga objektivitas asesmen kinerja diperlukan penetapan rubrik. Rubrik ini disusun berdasarkan tujuan asesmen. Dalam melaksanakan asesmen dengan menggunakan rubrik sebaiknya siswa mengetahui tentang kriteria apa saja yang akan dinilai sehingga mereka dapat memaksimumkan kemampuan yang dimilikinya.
Rubrik atau kriteria penilaian adalah suatu deskripsi tentang dimensi-dimensi untuk memutuskan kinerja siswa, suatu skala nilai untuk menilai dimensi-dimensi yang telah ditetapkan, dan standar untuk memutuskan kinerja (Karim, 2003). Rubrik berarti hirarki dari standar yang digunakan untuk menilai kerja siswa. Rubrik membantu guru untuk menilai kinerja siswa dengan lebih akurat dan objektif dan memfokuskan guru untuk menilai kinerja bukan siswanya (Bush & Leinwald, 2000). Terdapat 2 macam rubrik, yaitu holistik dan analitik.
Rubrik holistik menggambarkan kualitas kinerja untuk tiap level sedangkan rubrik analitik memberikan nilai untuk komponen tugas. Kedua rubrik tersebut memiliki keuntungan masing-masing. Keuntungan rubrik holistik, antara lain pekerjaan dinilai melalui keseluruhan kualitas, semua proses diberikan bobot yang sama, serta menekankan pada proses berpikir dan berkomunikasi dalam matematika, serta perhitungannya secara menyeluruh. Keuntungan rubrik analitik, antara lain menekankan pada cara yang berbeda dalam penyelesaian tugas, beberapa proses mungkin mendapatkan penekanan atau bobot yang berbeda, lebih mudah diterapkan, serta memberikan sebagian kredit, serta perhitungannya lebih terperinci (Bush & Leinwald, 2000). Contoh rubrik-rubrik asesmen dalam pembelajaran matematika, yaitu:

Tabel 1. Rubrik Holistik
Nilai
Keterangan
Kriteria Umum
3
Sangat Memuaskan
Menunjukkan pemahaman konsep secara tepat dan teliti, perhitungan benar, menggunakan tabel, gambar, dan grafik secara benar dan teliti, menggunakan strategi yang tepat, serta alasan tepat dan masuk akal
2
Memuaskan
Menunjukkan pemahaman konsep secara tepat, perhitungan benar, menggunakan tabel, gambar, dan grafik secara benar dan teliti, penggunakan strategi tepat, serta alasan tepat tapi kurang masuk akal
1
Kurang memuaskan
Menunjukkan pemahaman konsep kurang tepat, perhitungan benar, menggunakan tabel, gambar, dan grafik secara benar tetapi kurang teliti, penggunakan strategi kurang tepat, serta alasan kurang tepat

Tabel 2. Rubrik Analitik
Keterangan
Nilai dan Kriteria Umum
Pemahaman masalah
Tidak memahami (0)
Memahami sebagian (3)
Dapat memahami (6)
Perencanaan strategi
Strategi salah (0)
Sebagian strategi benar (3)
Semua strategi tepat (6)
Jawaban yang didapat
Jawaban salah (0)
Sebagian jawaban benar (3)
Jawaban benar (6)

Dalam asesmen kinerja, guru dan siswa dapat menggunakan rubrik yang sudah ada atau dapat mengembangkan rubrik sendiri. Tapi untuk mengembangkan sebuah rubrik memerlukan waktu yang cukup banyak. Rubrik QCAI mencakup tiga komponen yang saling berkaitan dan merefleksikan kerangka konseptual dari asesmen: (1) Konseptual dan prosedural matematik. (2) Pengetahuan strategik matematik dan (3) Komunikasi matematik. Rubrik yang digunakan QCAI adalah sebagai berikut:

Tabel 3 .Rubrik Asemen Kinerja

Skor
Pengetahuan Matematik
Pengetahuan Strategik
Komunikasi Matematika
4
Menunjukkan pemahaman terhadap konsep dan prinsip problem matematik, menggunakan terminologi dan notasi matematika yang sesuai dan mengerjakan algoritma secara komplit dan benar
Menggunakan informasi luar yang relevan baik formal maupun informal, mampu mengidentifikasi unsur-unsur penting dari masalah dan menunjukkan pemahaman terhadap hubunganhubungan antara unsur-unsur tersebut. Merefleksikan strategi yang sesuai dan sistematik dari pemecahan masalah, dan memberikan bukti yang kuat dari proses selesaian yang kuat dan sistematik
Memberikan respon yang lengkap dengan penjelasan yang jelas dan tidak membingungkan, termasuk diagram yang sesuai dan lengkap, mengkomunikasikan selesaian yang efektif, memberikan argumen pendukung yang kuat, logis dan lengkap, termasuk contoh-contoh dan kontra contoh
3
Menunjukkan pemahaman yang hampir benar terhadap konsep dan prinsip problem matematik, menggunakan hamper benar terminologi dan notasi matematika, mengerjakan algoritma secara lengkap, dan perhitungan yang secara umum benar tapi mungkin memuat kesalahan-kesalahan kecil.
Menggunakan informasi luar yang relevan baik formal maupun informal, mampu mengidentifikasi sebagian besar unsur-unsur penting dari masalah dan menunjukkan pemahaman yang umum dari hubungan-hubungan antara unsurunsur tersebut, dan memberikan bukti yang kuat dari proses selesaian yang lengkap atau hampir lengkap dan sistematik.
Memberikan respon yang cukup lengkap dengan penjelasan atau deskripsi yang dapat dipertanggungjawabkan kejelasannya, mungkin memuat hampir lengkap diagram yang sesuai, secara umum mengkomunikasikan solusi secara efektif, menghadirkan argumenargumen pendukung yang logis tapi mungkin memuat beberapa lompatan (gap) kecil.
2
Menunjukkan pemahaman dari beberapa konsep atau prinsip problem matematik dan mungkin memuat kesalahan perhitungan yang serius
Dapat mengidentifikasi beberapa unsur penting dari masalah tapi menunjukan pemahaman yang terbatas dari hubungan antara unsur-unsur tersebut, dan memberikan beberapa bukti dari proses solusi, tapi proses solusinya mungkin tidak lengkap atau tidak sistematik.
Membuat kemajuan yang signifikan kearah solusi yang lengkap terhadap masalah, tapi penjelasan atau deskripsi mungkin membingungkan atau tidak jelas, mungkin membuat diagram yang tidak jelas, komunikasi sulit untuk diinterpretasi, dan argumen-argumen mungkin tidak lengkap atau didasarkan pada premis-premis yang tidak logis
1
Menunjukkan pemahaman yang terbatas pada konsep dan prinsip problem matematik, mungkin salah menggunakan atau gagal dalam memakai bentuk-bentuk matematik, dan membuat kesalahan perhitungan yang besar.
Mungkin menggunakan informasi luar yang tidak relevan, gagal untuk mengidentifikasi unsur-unsur penting atau terlalu menekan pada unsur-unsur yang tidak penting, merefleksikan strategi yang tidak sesuai dari pemecahan masalah, memberikan bukti yang tidak kuat dari proses solusi, proses solusi mungkin tidak ada atau sulit untuk mengidentifikasi atau tidak sistematik
Memiliki beberapa unsur-unsur yang sesuai tapi gagal untuk melengkapinya atau mungkin menghilangkan bagianbagian penting dari masalah, penjelasan atau diskripsi mungkin keliru atau sulit untuk diikuti, mungkin memuat diagram representasi situasi masalah yang keliru atau diagram yang tidak jelas atau sulit untuk diinterpretasi

KESIMPULAN
Asesmen kinerja merupakan prosedur penggunaan tugas-tugas yang bertujuan untuk mengetahui seberapa baik siswa telah belajar dan menuntut para siswa untuk secara aktif melaksanakan tugas-tugas yang kompleks dan signifikan serta menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk menyelesaikan masalah-masalah realistik dan otentik. Asesmen kinerja dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai pengetahuan matematika (mathematical knowledge), pengetahuan strategik (strategical knowledge) dan komunikasi matematik (communication). Selain itu, asesmen kinerja memiliki beberapa keunggulan, yaitu (1) Memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ketrampilan menemukan, (2) Memberikan peluang untuk aplikasi-aplikasi pertanyaan-pertanyaan berakhir terbuka, (3) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa, (4) Memberikan bukti mengenai apa yang dapat siswa lakukan, (5) Memberikan kesempatan untuk kreatifitas siswa. Penggunaan tugas kinerja yang berpadu dengan pembelajaran matematika perlu dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Hal ini bertujuan untuk membangun komunitas belajar yang dewasa.


PERTANYAAN :
Desain penilaian kinerja sangat cocok dalam pembelajaran matematika yang sudah dipaparkan. Adapun sebuah kasus apabila guru sudah menerapkan dengan benar dalam mendesain kinerja seorang guru untuk menilai peserta didiknya, akan tetapi nilai kinerja dari siswa sebagian masih banyak yang belum tuntas, guru sudah melakukan upaya untuk meminta kepada siswa memperbaiki nilai yang belum tuntas, sebagai guru tugas yang diberikan sudah dikoreksi ternyata masih banyak juga belum tuntas sebanyak 4 kali melakukan remedial atau lebih, selanjutnya wali kelas atau teman seprofesi maupun kepala sekolah bersangkutan meminta kepada guru mata pelajaran untuk dipercepat prosesnya dengan cara mempermudah siswa tidak menggunakan soal -soal remedial seperti membuat rangkuman, keterampilan, dikarenakan siswa masih belum tuntas juga apabila diberikan soal remedial, 
  1. Menurut anda, apakah guru gagal memberikan proses pembelajaran karna masih banyak siswa yang belum tuntas ataukah siswa yang zaman sekarang banyak yang tidak peduli dengan pembelajaran apalagi matematika ?
  2. Sikap kita sebagai guru bersangkutan lebih memilih tidak diberikan soal remedial atau  adakah upaya cara lain supaya nilai siswa tuntas?


11 komentar:

  1. Mengenai permasalahan no 1. Kita tidak bisa langsung dapat mengambil kesimpulan bahwa guru gagal dalam memberikan pembelajaran kepada siswa, karena bnyak faktor dalam pembelajarn yang dapat proses belajar mengajar dikelas tidak berjalan secara semestinya.jd untuk lebih meminimalisir dalam hal kegagalan dalam proses evaluasi kita sebagai guru harus lebih mengenal dulu karakter atau kemampuan dari anak didik kita..sehingga kita bisa menentukan evaluasi seperti apa yang cocok untuk anak didik kita.

    BalasHapus
  2. 1. Menurut saya tidak bisa sepenuhnya dikatakan bahwa seorang guru gagal, banyak faktor yg menyebabkan banyak siswa yg remedi. Kemungkinan tahap-tahap pembelajaran yg sebenarnya belum terlaksana dengan baik, sebagai guru langkah awal adalah mengenal karakterisrik siswa, kemudian memberikan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswanya tsb, jika keadaan kelas tidak semangat guru harus memvariasikan metode pembelajaran agar mampu meningkatkan motivasi siswanya, kemudian guru melakukan assesmen atau penilaian yang tepat yg mampu meningkatkan kualitas siswa. Mungkin ada tahapan yg kirang sempurna dilakukan selama proses pembelajaran.
    2. Remedial jangan diartikan hanya sebatas memberi soal ulang dengan tingkat yg sama seperti soal orisinilnya, tetapi tahap remedial harus dilaksanakan, yaitu pertama mengidentifikasi permasalahan pemahaman siswa, selanjutnya memberikan treathment berupa layanan peningkatan pemahaman siswa, lalu assestment remedialnya. Jika hanya diberikan soal yg sama tanpa treatmen sama saja dengan penyakit yg sama, tanpa diberi obat tapi kepengen sembuh. Piye toh?

    BalasHapus
  3. 1. menurut saya tidak bisa mengambil kesimpulan seperti permasalahan tersbut, kita harus bisa mengevaluasi kenapa siswa tersebut banyak yang remedial, apakah benar terjadi pada guru atau memang kesalahan pada siswa, setelah dievaluasi sebagai guru kita dapat mencari solusi dari dari permasalahan tersebut mungkin dengan cara merubah metode mengajar.
    2. remedial itu diberikan ketika siswa tidak memenuhi batas ketuntasan yang kita berikan, kemudian remedial juga merupakan suatu bantuan untuk mengatasi kesulitan belajar, cara lainnya sebelum melakukan remedial, sebagai seorang guru harus membrikan pemahaman kepada peserta didiknya bagian mana yang dia tidak memahaminya baru memberikan remedial

    BalasHapus
  4. 1. Permaslahan pertama, tidak bisa langsunh disimpulkan bahwa guru atau siswa gagal dalam mencapai tujuan pembelajaran. Karena banyak faktor yang berperan didalamnya. Salah satunya adalah motivasi. Baik motivasi guru mengajar atau pun motibasi siswa dalam menerima pelajaran. Keduanya saling berkaitan. Jika memang motivasi siswanya rendah, maka guru lah yang harus memberikan motivasi lebih kepda siswanya utk lebh giat lg dalam belajar.
    2. Mslah kedua, ketiKa ada siswa yang tidak tuntas, guru wajib memberikan remedial kepada siswanya. Remedialnya bisa sja dengan mengerjakan soal yang sama dan pada nomor berapa atau kd berapa yang tidak tuntas.

    BalasHapus
  5. Permasalahan pertama guru tidak sepenuhnya gagal garena banyak fator yang mempenkaruhi dalam pembelajaran seperti waktu yang sedikit dan juga faktor dari siswa itu sendiri yang tidak serius dalam proses pembelajaran.
    Yang kedua remedial diberikan dimana siawa tersebut tidak tuntas dalam penilaian.

    BalasHapus
  6. Permasalahan pertama guru tidak sepenuhnya gagal garena banyak fator yang mempenkaruhi dalam pembelajaran seperti waktu yang sedikit dan juga faktor dari siswa itu sendiri yang tidak serius dalam proses pembelajaran.
    Yang kedua remedial diberikan dimana siawa tersebut tidak tuntas dalam penilaian.

    BalasHapus
  7. menurut saya kita perlu melihat berapa persentase ketidaktuntasan siswa dalam kelas. misalnya tingkat keridaktuntasannya lebih dri 80%, bisa jadi cara gurunya mengajar yang salah. tetapi jika persentase ketidaktuntasan siswa dalm kelas hany 10%, hal itu wajar-wajar saja karna mengingat kemampuan siswa berbeda-beda. cara meremedialnay adalah bukan hanya dengan lngsung memberikan soal tetapi siswa-siswa yang tidak tuntas itu dibelajarkan kembali mengenai materi tersebut, setelah itu baru diberikan tes kembali. terima kasih

    BalasHapus
  8. menurut saya, ketidaktuntasan siswa memiliki faktor yang menyebabkannya, beberapa karena dari segi intern siswa tersebut misalnya karena tingkat kemalasan, kecemasan dan keteraturan sistem pembelajaran yang di terapkan

    BalasHapus
  9. harus diidentifikasi kemampuan dasar siswa, jika siswa kelas tersebut berdistribusi normal setelah dilakukan analisis, maka bisa dikatakan guru gagal mengajar. Namun jika tidak,hal tersebut harus dilakukan investigasi lebih lanjut

    BalasHapus
  10. 1. kita tidak bisa menyalahkan guru begitu juga, ada baiknya kita juga melihat keadaan siswa jika siswa tersebut berkebutuhan khusus maka ada baiknya kita jelaskan kepada guru jika penilaiannya berbeda dengna siswa yang ada pada umumnya
    2. mungkin dengna melihat dari penilaian proses siswa

    BalasHapus
  11. banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan siwa, bisa jadi dari guru atau bisa juga motivasi siswa kurang, serta pengaruh perkembangan teknologi.

    BalasHapus