Penilaian Ranah Afektif
Penilaian adalah kegiatan untuk menentukan pencapaian hasil pembelajaran.
Hasil pembelajaran dapat dikategorikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah
kognitif, psikomotor, dan afektif. Setiap peserta didik memiliki tiga ranah
tersebut, hanya kedalamannya tidak sama. Ada peserta didik yang memiliki
keunggulan pada ranah kognitif, atau pengetahuan, dan ada yang memiliki
keunggulan pada ranah psikomotor atau keterampilan. Namun, keduanya harus
dilandasi oleh ranah afektif yang baik. Pengetahuan yang dimiliki seseorang
harus dimanfaatkan untuk kebaikan masyarakat. Demikian juga keterampilan yang
dimiliki peserta didik juga harus dilandasi olah ranah afektif yang baik, yaitu
dimanfaatkan untuk kebaikan orang lain.
Penilaian pada ranah
afektif, seperti pada ranah lainnya memerlukan data yang bisa berupa
kuantitaitf atau kualitatif. Data kuantatif diperoleh melalui pengukuran atau
pengamatan dan hasilnya berbentuk angka. Data kualitiatif pada umumnya
diperoleh melalui pengamatan. Untuk itu, diperlukan instrumen nontes, yaitu
instrumen yang hasilnya tidak ada yang salah atau benar. Data kualitatif
diperoleh dengan menggunakan instrumen dalam bentuk pedoman pengamatan.
Langkah-langkah Menyusun Instrumen
Penilaian Afektif
Ada sebelas langkah yang
harus diikuti dalam mengembangkan instrumen penilaian afektif, yaitu:
menentukan spesifikasi instrumen, menulis instrumen, menentukan skala
instrumen, menentukan sistem penskoran, menelaah instrumen, merakit instrumen,
melakukan ujicoba, menganalisis hasil ujicoba, memperbaiki instrumen,
melaksanakan pengukuran, dan menafsirkan hasil pengukuran.
Menentukan spesifikasi instrumen
Spesifikasi instrumen terdiri atas tujuan dan kisi-kisi instrumen. Dalam
bidang pendidikan pada dasarnya pengukuran afektif ditinjau dari tujuannya,
contohnya instrumen sikap.
Menulis instrumen
Definisi konseptual: Sikap merupakan kecenderungan merespon secara
konsisten baik menyukai atau tidak menyukai suatu objek. Instrumen sikap
bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek, misalnya
kegiatan sekolah. Sikap bisa positif bisa negatif. Definisi operasional: sikap
adalah perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek. Objek bisa berupa
kegiatan atau mata pelajaran. Cara yang mudah untuk mengetahui sikap peserta
didik adalah melalui kuesioner.
Pertanyaan tentang sikap meminta responden menunjukkan perasaan yang
positif atau negatif terhadap suatu objek, atau suatu kebijakan. Kata-kata yang
sering digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan arah perasaan seseorang;
menerima-menolak, menyenangi-tidak menyenangi, baik-buruk, diingini-tidak
diingini.
Contoh indikator sikap
terhadap mata pelajaran matematika misalnya:
-
Membaca buku matematika
-
Mempelajari matematika
-
Melakukan interaksi dengan guru matematika
-
Mengerjakan tugas matematika
-
Melakukan diskusi tentang matematika
-
Memiliki buku matematika
Contoh pernyataan untuk
kuesioner:
-
Saya senang membaca buku matematika
-
Tidak semua orang harus belajar matematika
-
Saya jarang bertanya pada guru tentang
pelajaran matematika
-
Saya tidak senang pada tugas pelajaran
matematika
-
Saya berusaha mengerjakan soal-soal
matematika sebaik-baiknya
-
Memiliki buku matematika penting untuk
semua peserta didik
Menentukan skala instrumen
Secara garis besar skala instrumen yang sering digunakan dalam penelitian,
yaitu Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda semantik..
Contoh Skala Likert:
Sikap terhadap pelajaran Matematika
1
|
Pelajaran Matematika bermanfaat
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
2
|
Pelajaran Matematika sulit
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
3
|
Tidak semua harus belajar Matematika
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
4
|
Pelajaran Matematika harus dibuat mudah
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
5
|
Sekolah saya menyenangkan
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
Keterangan:
SS
: Sangat Setuju
S
: Setuju
TS
: Tidak Setuju
STS
: Sangat Tidak Setuju
Menentukan sistem penskoran
Sistem penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. Apabila
digunakan skala Thurstone, maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan skor
terendah 1. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik, tertinggi
7 terendah 1. Untuk skala Likert, pada awalnya skor tertinggi tiap butir 5 dan
terendah 1. Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih
jawaban pada katergori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert. Untuk menghindari hal
tersebut skala Likert dimodifikasi dengan hanya menggunakan 4 (empat) pilihan,
agar jelas sikap atau minat responden.
Menelaah instrumen
Kegiatan pada telaah instrumen adalah menelaah apakah: a) butir
pertanyaan/pernyataan sesuai dengan indikator, b) bahasa yang digunakan komunikatif
dan menggunakan tata bahasa yang benar, c) butir pertanyaaan/pernyataan tidak
bias, d) format instrumen menarik untuk dibaca, e) pedoman menjawab atau
mengisi instrumen jelas, dan f) jumlah butir dan/atau panjang kalimat
pertanyaan/pernyataan sudah tepat sehingga tidak menjemukan untuk
dibaca/dijawab.
Telaah dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan lebih baik
bila ada pakar penilaian. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila
yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen. Bahasa yang
digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat pendidikan responden. Hasil telaah
selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen.
Merakit instrumen
Setelah instrumen diperbaiki selanjutnya instrumen dirakit, yaitu
menentukan format tata letak instrumen dan urutan pertanyaan/ pernyataan.
Format instrumen harus dibuat menarik dan tidak terlalu panjang, sehingga
responden tertarik untuk membaca dan mengisinya. Setiap sepuluh pertanyaan
sebaiknya dipisahkan dengan cara memberi spasi yang lebih, atau diberi batasan
garis empat persegi panjang. Urutkan pertanyaan/pernyataan sesuai dengan
tingkat kemudahan dalam menjawab atau mengisinya.
Melakukan ujicoba
Setelah dirakit instrumen diujicobakan kepada responden, sesuai dengan
tujuan penilaian apakah kepada peserta didik, kepada guru atau orang tua
peserta didik. Untuk itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi
yang ingin dinilai. Bila yang ingin dinilai adalah peserta didik SMA, maka
sampelnya juga peserta didik SMA. Sampel yang diperlukan minimal 30 peserta
didik, bisa berasal dari satu sekolah atau lebih.
Menganalisis hasil ujicoba
Analisis hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir
pertanyaan/pernyataan. Jika menggunakan skala instrumen 1 sampai 7, dan jawaban
responden bervariasi dari 1 sampai 7, maka butir pertanyaan/pernyataan pada
instrumen ini dapat dikatakan baik. Namun apabila jawabannya hanya pada satu
pilihan jawaban saja, misalnya pada pilihan nomor 3, maka butir instrumen ini
tergolong tidak baik. Indikator yang digunakan adalah besarnya daya beda dan
indeks keandalan yang dikenal dengan indeks reliabilitas.
Memperbaiki instrumen
Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/pernyataan yang tidak
baik, berdasarkan analisis hasil ujicoba. Bisa saja hasil telaah instrumen
baik, namun hasil ujicoba empirik tidak baik. Untuk itu butir
pertanyaan/pernyataan instrumen harus diperbaiki. Perbaikan termasuk
mengakomodasi saran-saran dari responden ujicoba. Instrumen sebaiknya
dilengkapi dengan pertanyaan terbuka.
Melaksanakan pengukuran
Pelaksanaan pengukuran perlu memperhatikan waktu dan ruangan yang
digunakan. Waktu pelaksanaan bukan pada waktu responden sudah lelah. Ruang
untuk mengisi instrumen harus memiliki cahaya (penerangan) yang cukup dan
sirkulasi udara yang baik. Tempat duduk juga diatur agar responden tidak
terganggu satu sama lain. Diusahakan agar responden tidak saling bertanya pada
responden yang lain agar jawaban kuesioner tidak sama atau homogen. Pengisian
instrumen dimulai dengan penjelasan tentang tujuan pengisian, manfaat bagi
responden, dan pedoman pengisian instrumen.
Menafsirkan hasil pengukuran
Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Untuk menafsirkan hasil pengukuran
diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan
jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di
atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
sikap merupakan keadaan
internal seseorang, berupa kecendrungan atau kesiapan memberikan respon
meliputi kognitif, afeksi dan konatif terhadap suatu stimulus dari lingkungan
sekitarnya, Yang harus digarisbawahi adalah penilaian sikap tidak berdiri
sendiri. Penilaian sikap terintegrasi dengan penilaian pengetahuan dan
penilaian keterampilan.
Penilaian sikap sangat
penting dilakukan agar keberhasilan pembelajaran dapat diketahui, dan
disesuaikan dengan standar kelulusan yang sudah ditetapkan dalam permendiknas.
Objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran adalah: sikap terhadap
materi pelajaran, terhadap guru/pengajar, terhadap proses pembelajaran,
terhadap nilai dan norma yang berhubungan dengan suatu materi pelajaran.
Penilaian Afektif
mencakup, karakter, sikap minat dan persepsi.
Dalam penilaian sikap
perlu disusun instrument dengan skala yang sesuai dengan aspek yang akan
diukur, dapat digunakan skala Likert, Skala Trustone, Skala Guttman atau
Sematik Differensial.
Saran
Adapun saran yang dapat penulis
sampaikan adalah agar para pendidik dapat melakukan penilaian afektif dalam
setiap pembelajaran yang dilaksanakan. Gunakan instrument dan skala yang cocok
untuk aspek yang akan diukur.
PERTANYAAN :
Apabila siswa penilaian
afektif nya berkurang atau dikategorikan anak yang nakal apakah bisa dilakukan
remedial penilaian afektif nya, kalau bisa seperti apa perbaikan yang
seharusnya ?
wkwkwkwk sepertinya tidak ada remedial afektif ilon, jika afektif siswa kurang maka guru mapel harus berkolaborasi dengan guru BK
BalasHapuspenilaian afektif hanya bisa dilakukan perbaikan tingkah laku yakni dengan bimbingan para guru untuk memperbaiki tingkah lakunya.
BalasHapus